Sabtu, 30 Januari 2010

IKHLAS

TUHAN MAHA ESA, MAHA HIDUP, MAHA BESAR, MAHA PERKASA, MAHA KUASA, MAHA TAHU, BERDIRI SENDIRI TIDAK BERGANTUNG DENGAN YANG LAINNYA.
TUHAN MAHA PENCIPTA, MAHA PENGASIH, MAHA PEMURAH, MAHA PEMELIHARA, MAHA PENDIDIK, MAHA PEMBERI REJEKI ..... DAN MAHA SEGALA-GALANYA.

MONOLOYALITAS HANYA KITA SANDARKAN PADA TUHAN
SUNGGUH NAIF KITA BERBUAT UNTUK SESUATU SELAIN TUHAN
MINTA UPAHLAH KEPADA TUHAN
ARAHKAN HATI, NIAT DAN PERBUATAN KITA HANYA UNTUK TUHAN

KEIKHLASAN ... TIDAK MUDAH SELALU AKAN DIUJI
JALAN BERLIKU DAN MENDAKI
KEMEWAHAN ATAU KEKURANGAN DUNIAWI
WANITA, JABATAN DAN MATERI

PUPUK IKHLAS DI HATI
KUMPULKAN ENERGI
SABAR, OPTIMIS DAN KENDALIKAN DIRI
MENJADI MANUSIA BERARTI

TERUS LURUS BERJALAN
BERSAMA ORANG PILIHAN
MENUJU TAMAN HARAPAN DAN IMPIAN
YANG TUHAN TELAH MENJANJIKAN

AMAL PERBUATAN ITU SEBAGAI KERANGKA YANG TEGAK, SEDANG RUH (JIWA) NYA ADALAH TEMPAT TERDAPATNYA RAHASIA IKHLAS (KETULUSAN) DALAM AMAL PERBUATAN. BAB TENTANG IKHLAS ADALAH BAB YANG MUTLAK DAN PALING PENTING UNTUK DIPAHAMI DAN DIAMALKAN, KARENA AMAL YANG AKAN DITERIMA TUHAN HANYALAH AMAL YANG DISERTAI DENGAN NIAT IKHLAS. OLEH KARENANYA, SEHEBAT APAPUN SUATU AMAL BILA TIDAK IKHLAS, TIDAK ADA APA-APANYA DIHADAPAN TUHAN, SEDANG AMAL YANG SEDERHANA SAJA AKAN MENJADI LUAR BIASA DIHADAPAN ALLAH SWT BILA DISERTAI DENGAN IKHLAS. TIDAKLAH HERAN SEANDAINYA SHALAT YANG KITA KERJAKAN BELUM TERASA KHUSYU, ATAU HATI SELALU RESAH DAN GELISAH DAN HIDUP TIDAK MERASA NYAMAN DAN BAHAGIA, KARENA KUNCI DARI ITU SEMUA BELUM KITA DAPATKAN, YAITU SEBUAH KEIKHLASAN. BEGITU BESAR PENGARUH ORANG YANG IKHLAS ITU, SEHINGGA DENGAN KEKUATAN NIAT IKHLASNYA MAMPU MENEMBUS RUANG DAN WAKTU. SEPERTI HALNYA APAPUN YANG DILAKUKAN, DIUCAPKAN, DAN DIISYARATKAN RASULULLAH, MAMPU MEMPENGARUHI KITA SEMUA WALAU BELIAU TELAH WAFAT RIBUAN TAHUN YANG LALU NAMUN KITA SENANTIASA PATUH DAN TAAT TERHADAP APA YANG BELIAU SAMPAIKAN. BAHKAN ORANG YANG IKHLAS BISA MEMBUAT IBLIS (SYAITAN) TIDAK BISA BANYAK BERBUAT DALAM USAHANYA UNTUK MENGGODA ORANG IKHLAS TERSEBUT.

CIRI-CIRI DARI ORANG YANG MEMILIKI KEIKHLASAN DIANTARANYA :

1. HIDUPNYA JARANG SEKALI MERASA KECEWA, ORANG YANG IKHLAS DIA TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH SIKAPNYA SEANDAINYA DISAAT DIA BERBUAT SESUATU KEBAIKAN ADA YANG MEMUJINYA, ATAU TIDAK ADA YANG MEMUJI/MENILAINYA BAHKAN DICACIPUN HATINYA TETAP TENANG, KARENA IA YAKIN BAHWA AMALNYA BUKANLAH UNTUK MENDAPATKAN PENILAIAN SESAMA YANG SELALU BERUBAH TETAPI DIA BULATKAN SEUTUHNYA HANYA INGIN MENDAPATKAN PENILAIAN YANG SEMPURNA DARI TUHAN.

2. TIDAK TERGANTUNG / BERHARAP PADA MAKHLUK, ORANG YANG IKHLAS ITU JANGANKAN UNTUK MENDAPATKAN PUJIAN, DIBERIKAN UCAPAN TERIMA KASIH PUN DIA SAMA SEKALI TIDAK AKAN PERNAH MENGHARAPKANNYA, KARENA SETIAP KITA BERAMAL HAKIKATNYA KITA ITU SEDANG BERINTERAKSI DENGAN TUAHAN, OLEH KARENANYA HARAPAN YANG ADA AKAN SENANTIASA TERTUJU KEPADA KERIDHAAN TUHAN SEMATA.

3. TIDAK PERNAH MEMBEDAKAN ANTARA AMAL BESAR DAN AMAL KECIL, DIRIWAYATKAN BAHWA IMAM GHAZALI PERNAH BERMIMPI, DAN DALAM MIMPINYA BELIAU MENDAPATKAN KABAR BAHWA AMALAN YANG BESAR YANG PERNAH BELIAU LAKUKAN DIANTARANYA ADALAH DISAAT BELIAU MELIHAT ADA SEEKOR LALAT YANG MASUK KEDALAM TEMPAT TINTANYA, LALU BELIAU ANGKAT LALAT TERSEBUT DENGAN HATI-HATI LALU DIBERSIHKANNYA DAN SAMPAI AKHIRNYA LALAT ITUPUN BISA KEMBALI TERBANG DENGAN SEHAT. MAKA SEKECIL APAPUN SEBUAH AMAL APABILA KITA KERJAKAN DENGAN SEMPURNA DAN BENAR-BENAR TIADA HARAPAN YANG MUNCUL PADA SELAIN ALLAH, MAKA AKAN MENJADI AMAL YANG SANGAT BESAR DIHADAPAN TUHAN.

4. BANYAK AMAL KEBAIKAN YANG RAHASIA, MUNGKIN KETIKA KITA MENGAJI DILINGKUNGAN ORANG BANYAK MAKA KITA AKAN MENGAJI DENGAN ENAKNYA, LAMA DAN PENUH KHIDMAT, KETIKA KITA SHALAT BERJAMAAH APALAGI SEBAGAI IMAM KITA AKAN BERUSAHA KHUSYU DAN LAMA, TAPI APAKAH HAL TERSEBUT AKAN KITA LAKUKAN DENGAN KADAR YANG SAMA DI SAAT KITA BERAMAL SENDIRIAN ? APABILA AMAL KITA TETAP SAMA BAHKAN CENDERUNG LEBIH BAIK, LEBIH LAMA, LEBIH ENAK DAN LEBIH KHUSYUK MAKA ITU BISA DIHARAPKAN SEBAGAI AMALAN YANG IKHLAS. NAMUN BILA YANG TERJADI SEBALIKNYA, ADA KEMUNGKINAN AMAL KITA BELUMLAH IKHLAS.

5. TIDAK MEMBEDAKAN ANTARA BENDERA, GOLONGAN, RAS, ATAU ORGANISASI, FITRAH MANUSIA ADALAH INGIN MENDAPATKAN PENGAKUAN DAN PENILAIAN DARI KEBERADAANNYA DAN SEGALA AKTIVITASNYA, NAMUN PENGAKUAN DAN PENILAIAN MAKHLUK, BAIK PERORANGAN, ORGANISASI ATAU INSTANSI TEMPAT KERJA ITU RELATIF DAN AKAN SENANTIASA BERUBAH, BANYAK ORANG YANG PERNAH DIANGGAP SEBAGAI PAHLAWAN NAMUN SEIRING WAKTU BERJALAN ADAKALANYA BERUBAH MENJADI SOSOK PENJAHAT YANG PATUT DIWASPADAI. MAKA TIADA PENILAIAN DAN PENGAKUAN YANG PALING BAIK DAN YANG HARUS SENANTIASA KITA USAHAKAN ADALAH PENILAIAN DAN PENGAKUAN DARI TUHAN.


BANYAK YANG PUNYA INOVASI BISNIS NAMUN TIDAK BANYAK YANG MEMILIKI KEIHKLASAN DALAM BERBAGI ILMU YANG DIMILIKINYA. ORANG YANG SUDAH DI ATAS (SUKSES) JANGAN MELUPAKAN DIRINYA DULU PERNAH DI BAWAH. SUATU TINDAKAN MULIA SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG PERCAYA BAHWA DENGAN BERBAGI ILMU TANPA PAMRIH ADALAH SUATU TINDAKAN YANG SANGAT TERPUJI DAN DALAM JANGKA PANJANG AKAN MENGALIRKAN PAHALA YANG BERLIMPAH.


HAL INI TERNYATA ADA KETERKAITANNYA DENGAN HUKUM KEKEKALAN ENERGI, SEPERTI KITA TAHU BAHWA ENERGI ITU ADALAH TETAP TIDAK BERTAMBAH JUGA TIDAK BERKURANG YANG ADA HANYA BERUBAH BENTUK SAJA. NAH KALAU KITA BERBUAT IKHLAS SEKECIL APAPUN PERBUATAN ITU, BERARTI KITA SUDAH MENGELUARKAN ENERGI POSITIF UNTUK ORANG LAIN DAN MENGINGAT KEMBALI HUKUM KEKEKALAN ENERGI BAHWA ENERGI ITU TETAP MAKA KITA AKAN MENDAPATKAN ENERGI POSITIF ITU KEMBALI DALAM BENTUK YANG TIDAK DIDUGA-DUGA BISA BERUPA KEBERKAHAN HIDUP, REJEKI BERLIMPAH DAN LAIN-LAIN. BEGITU JUGA JIKA KITA MELAKUKAN HAL-HAL BURUK MAKA SEBENARNYA KITA TELAH MENGELUARKAN ENERGI NEGATIF, MAKA YANG AKAN KITA TERIMA KEMUDIAN ADALAH ENERGI NEGATIF PULA BISA BERUPA KESIALAN, KEHILANGAN, REJEKI SERET DLL.


JADI, LAKUKAN SEGALA SESUATU DENGAN IKHLAS JANGAN DIPIKIR-PIKIR LAGI NANTI DAPET BALESANNYA APA YANG PENTING KERJAKAN DENGAN SENANG HATI PASTI HASILNYA ADALAH KESUKSESAN.


KUANTUM IKHLAS


IKHLAS SENDIRI, MEMILIKI ARTI KETERAMPILAN MENYERAHKAN SEGALA URUSAN KEHIDUPAN KEPADA TUHAN BERLANDASKAN KEYAKINAN DAN KEPASRAHAN ATAS KEKUATAN-NYA. SAYANG, DI ZAMAN YANG SERBA CEPAT DAN PENUH KOMPETISI INI, KETERAMPILAN TERSEBUT SUDAH TERPINGGIRKAN. AKIBATNYA, SELAIN SEMAKIN BANYAKNYA MANUSIA STRES, KRISIS DEMI KRISIS TERUS TERJADI. IKHLAS SUDAH MERUPAKAN FITRAH MANUSIA SEJAK DILAHIRKAN DI DUNIA. DAN NENEK MOYANG KITA TAHU ITU SEHINGGA MUNCULLAH AJARAN-AJARAN UNTUK SELALU IKHLAS. KETIKA MASALAH MENDATANGI KITA DAN KITA BERSEDIA MENGIKHLASKAN PERASAAN KITA TERHADAP MASALAH TERSEBUT, MAKA TUHAN AKAN MEMBERIKAN SOLUSI UNTUK KITA. JIKA IKHLAS SUDAH MENJADI KEBIASAAN, JANGAN HERAN KALU HIDUP MENJADI PENUH KEDAMAIAN DAN KASIH SAYING, JUGA PENUH KEDAMAIAN DAN KASIH SAYING, JUGA KEMUDAHAN DAN BERBAGAI KEJAIBAN. TANDA-TANDA KEIKHLASAN ITU ADALAH KALAU KITA SUDAH MAMPU MENGUBAH PERASAAN NEGATIF TERSEBUT MENJADL PERASAAN NYAMAN, DAMAI, CINTA, SYUKUR DAN BAHAGIA.


SESUNGGUHNYA, IKHLAS DAN KEAJAIBAN ITU ADALAH SEBUAH MEKANISME ALAMIAH YANG ILMIAH. LLMU FISIKA KUANTUM MENJELASKAN BAHWA SEMUA BENDA DI ALAM SEMESTA INI, BAIK YANG TAMPAK MAUPUN YANG TIDAK, BAHAN BAKUNYA SAMA, BERUPA VIBRASI ENERGI YANG MEMILIKI KECERDASAN DAN KESADARAN YANG HIDUP YANG DISEBUT QUANTA. KALAU DILIHAT MELALUI MIKROSKOP NUKLIR, BENDA-BENDA PADAT YANG ADA DI SEKELILING KITA SAMA SEKALI TIDAK TERLIHAT PADAT, TAPI HANYA BERUPA RONGGA BERISI GETARAN QUANTA. SALAH SATU HUKUM FISIKA KUANTUM JUGA MENYEBUTKAN BAHWA TINGKAH IAKU PARTIKEL YANG BERUBAH-UBAH DARI BENDA PADAT MENJADI GETARAN VIBRASI DAN SEBALIKNYA ITU SANGAT TERGANTUNG DARI NIAT PENELITINYA. INI BISA BERARTI BAHWA SEMUA BENDA YANG ANDA IIHAT MERUPAKAN SUSUNAN ENERGI QUANTA YANG TERCIPTA OLEH KERJA PIKIRAN DAN PERASAAN KITA SENDIRI. HAL ITU SESUAI DENGAN HUKUM SEMESTA, LAW OF ATTRACTION, YANG MENYEBUTKAN, SETIAP ENERGI AKAN MENARIK ENERGI YANG SEJENIS. DAN KARENA PIKIRAN DAN PERASAAN ITU BAHAN DASARNYA ADALAH JUGA QUANTA, MAKA KEDUANYA AKAN MENARIK APA YANG KITA PIKIRKAN ATAU RASAKAN. INI PULA YANG TERJADI KETIKA SESEORANG SEDANG MENGIKHLASKAN PERASAAN NYA TERHADAP MASALAH YANG TENGAH DIHADAPINYA. IA SEDANG MENYELARASKAN PIKIRAN DAN PERASAANNYA DENGAN KEHENDAK ILAHI DI LEVEL KUANTUM UNTUK MENARIK APA YANG IA INGINKAN TERSEBUT. “MAKA, SOLUSI YANG KEMUDIAN HADIR ITU SEBENARNYA KARENA ‘KITA UNDANG’, BUKAN TANPA SEBAB APALAGI AJAIB.




IMAN, ILMU DAN AMAL

MANUSIA MEMILIKI AKAL BUDI, DAPAT BERFIKIR DAN MERASAKAN DENGAN HATI. HATI KITA MENGANDUNG IMAN, KUALITAS IMAN MENENTUKAN KUALITAS PERBUATAN KITA DAN DERAJAT KITA DI MUKA BUMI INI. MANUSIA DI DALAM KANDUNGAN, SETELAH DITIUPKAN ROH OLEH TUHAN, DIA TELAH DITANAMKAN KEIMANAN KEPADA TUHANNYA. KEMUDIAN TUHAN MEMBERI PELAJARAN MELALUI PANCA INDERANYA SECARA PERLAHAN, MULAI BAYI, ANAK-ANAK, REMAJA HINGGA DEWASA. DENGAN IMAN MANUSIA MEMILIKI KOMITMEN DAN KEYAKINAN AGAR HIDUPNYA SAAT INI DAN MASA DEPAN SUKSES DAN HORMONIS BAIK HUBUNGANNYA DENGAN TUHAN, DENGAN MANUSIA LAIN DAN ALAM SEKITARNYA.

IMAN DAPAT BERTAMBAH DAN DAPAT BERKURANG. DENGAN BELAJAR MENCARI ILMU KITA PERTEBAL KEIMANAN. TANPA ILMU PERBUATAN KITA TAK TERARAH LAKSANA ORANG BUTA. MENCARI ILMU ITU WAJIB DARI LAHIR SAMPAI LIANG LAHAT. MENCARI DUNIA ADA ILMUNYA. MENCARI AKHIRAT ADA ILMUNYA. CARILAH ILMU WALAU KE NEGERI CINA. CARILAH ILMU HINGGA KAMU MENEMBUS LANGIT DAN BUMI.

IMAN DAN ILMU SELALU MELANDASI AMAL PERBUATAN KITA. HIDUP ADALAH PERBUATAN. TUHAN TELAH MENCIPTAKAN WAKTU DAN ALAM SEISINYA UNTUK MANUSIA AGAR BERBUAT DAN BERUSAHA MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUPNYA. MANUSIA HARUS MENGISI WAKTU DENGAN HAL-HAL YANG POSITIF. NASIB KITA TERGANTUNG PADA KITA SENDIRI. KERJA KERAS DAN CERDAS HARUS MULAI DARI DIRI SENDIRI, SAAT INI DARI YANG TERDEKAT / TERJANGKAU. KITA HARUS BERANI MENCOBA DAN BERBUAT. KITA JUGA HARUS BELAJAR DARI PENGALAMAN BAIK KESALAHAN MAUPUN KEBERHASILAN DARI DIRI KITA SENDIRI MAUPUN ORANG LAIN. HIDUP INI ADALAH PERJUANGAN. SETELAH BEKERJA KERAS KITA BERDOA DAN TAWAKAL.

GOD BLESS U !!!!!!!!!

Selasa, 26 Januari 2010

MOTIVASI DAN KEBUTUHAN

Secara fitrah dan naluri manusia mengakui eksistensi Tuhan YME. Setiap makhluk ciptaan Tuhan akan diberi rejeki yang ada di alam ini. Alam ini mengandung banyak energi, barangsiapa yang berbuat positif, maka alam akan merespons positif. Sebaliknya jika kita berbuat kerusakan, maka akan terjadi musibah yang dapat datang tidak terduga. Tidak ada yang dapat merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri. Setiap manusia adalah pemimpin akan dimintai petanggungjawaban apa yang dipimpinnya. Tuhan menciptakan waktu yang dapat berubah menjadi pedang dan menusuk diri kita jika kita menyia-nyiakan. Siapa saja akan merugi, kecuali orang yang beriman, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Manusia adalah makhluk sosial dan makhluk politik. Manusia membentuk masyarakat dan negara untuk mengatur hak dan kewajibannya agar tidak ada benturan satu sama lain. Setiap manusia adalah unik, sehingga berbeda dengan manusia lainnya. Perbedaan kepentingan akan menimbulkan konflik. Untuk keharmonisan kehidupan harus ada kerja sama dan sama-sama bekerja.
Manusia memanfaatkan sumber daya alam dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, dengan tetap memperhatikan kelestariannya hingga untuk generasi yang akan datang. Ekosistem harus tetap kita jaga agar rantai makanan berjalan alami. Menuruti keinginan / kebutuhan manusia tidak ada batasnya.
Teori Kebutuhan dengan asumsi: semua orang sama, semua situasi sama, dan selalu ada "satu cara terbaik".
Teori Hierarkhi Kebutuhan Maslow - Manusia Piramida, Abraham H. Maslow mendaftarkan 5 (lima) jenis kebutuhan manusia dari yang terendah hingga yang tertinggi : 1. Kebutuhan fisiologis; 2. Kebutuhan akan rasa aman; 3. Kebutuhan sosial; 4. Kebutuhan status; 5. Aktualisasi diri.
Teori ERG Clayton Alderfer - Manusia Tiga Tingkat, membagi kebutuhan hanya menjadi 3 (tiga) tingkat : 1. Kebutuhan Existence kebutuhan fisiologis dan rasa aman (dua tingkat pertama Maslow); 2. Kebutuhan Relatedness kebutuhan sosial dan struktur sosial (tingkat 3 Maslow); 3. Kebutuhan Growth kebutuhan pengembangan diri (tingkat 4 dan 5 Maslow).
Teori Perilaku Manusia Tikus, mengamati pelbagai perilaku orang yang memang diasumsikan bisa diukur : 1. Jika seseorang memperoleh apa yang diinginkan, maka "penghargaan positif meningkatkan kinerja" (R+); 2. Jika seseorang menghindari apa yang tidak diinginkan, maka "penghargaan negatif meningkatkan kinerja" (R); 3. Jika seseorang memperoleh apa yang tidak diinginkan, maka "hukuman menurunkan kinerja" (P+); 4. Jika seseorang tidak memperoleh apa yang diinginkan, maka "ancaman pemecatan menurunkan kinerja" (P).
Teori Efek Thorndike Manusia Pencari Kesenangan, menyatakan bahwa jika yang dilakukan seseorang menyenangkan, ia akan lebih sering melakukannya; jika yang dilakukan seseorang menyedihkan, ia pasti tidak akan mengulanginya. Jadi perilaku akan semakin melekat pada diri seseorang apabila : 1. Kesenangan atau kepedihan muncul seketika akibat suatu perilaku; 2. Kesenangan atau kepedihan tersebut terjadi berulang ulang; 3. Kesenangan atau kepedihan tersebut benar-benar dirasakan oleh orang tersebut.
Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi, menyatakan bahwa salah satu motivator paling mendasar dan paling kuat bagi manusia adalah dihargai secara positif; menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang membutuhkan "rangsangan" dari orang lain agar merasa puas secara emosional dan psikologis. Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan rangsangan ini akan semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari perhatian. Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau tidak menerima rangsangan sama sekali.
Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola, menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator. Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab : • Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan; • Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut; • Tugas-tugas sebisa mungkin akan diselesaikan; • Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh. Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu. Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting, ia tidak akan termotivasi untuk mencapainya.
Teori Kelompok Manusia Sosial, menyatakan bahwa suatu kelompok kerja cenderung menerapkan norma-norma produksi mereka sendiri dan memastikan anggota baru mereka untuk mengikuti aturan yang dibuat kelompok tersebut. Untuk melakukan hal ini, kelompok biasanya memakai beragam mekanisme sosial agar anggota baru tidak berproduksi secara berlebihan atau kurang.
Teori Dua Faktor Manusia Berkembang, menyatakan bahwa "kepuasan" dan "ketidakpuasan" adalah dua vektor yang berbeda. Seseorang dapat menghindari ketidakpuasan, tetapi hal ini belum tentu memberi kepuasan. Pemuas : Pekerjaan menarik, Pekerjaan menantang, Kesempatan berprestasi, Penghargaan, Promosi jabatan. Faktor Darurat: Gaji, Pengawasan, Kondisi kerja, Keamanan kerja, Status.
Teori Proses dengan asumsi : • Perilaku ditentukan oleh pelbagai macam faktor; • Setiap orang memutuskan sendiri perilaku mereka dalam organisasi; • Setiap orang memiliki jenis kebutuhan, keinginan, dan tujuan yang berbeda-beda dengan orang lain; • Setiap orang memilih rencana perilaku berdasarkan persepsi (harapan) seberapa jauh perilaku tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan.
Model Teori Lawler Manusia Pengharap, menyatakan bahwa bawahan harus diarahkan pada penghargaan di masa yang akan datang, dari pada belajar dari masa lalu. Bila mereka melihat kemungkinan adanya penghargaan berdasarkan usaha mereka itu, mereka akan semakin bekerja keras, kinerja meningkat dan penghargaan pun diberikan. Akibatnya, hal ini memberi kepuasan yang meningkatkan usaha.
Teori Kecenderungan dengan asumsi: • Setiap orang berbeda; • Kepribadian berdampak pada motivasi; • Setiap orang memiliki kebutuhannya sendiri-sendiri.
Teori Tiga Kebutuhan McClelland - Manusia Prestasi, menyatakan bahwa bawahan menginginkan 3 (tiga) hal dari pekerjaannya : • Prestasi (need of achievement) - n-Ach; • Kekuasaan (need of power) - n-Power; • Perhatian (need of affection) - n-Aff.
Teori Percaya Diri Manusia Yang Membatasi Diri, menyatakan bahwa bawahan hanya dapat berhasil mencapai target yang mereka yakini dapat mereka capai.
Teori Keadilan J. Stacy Adam Manusia Adil, menyatakan bahwa ketika kita membandingkan dengan orang lain dan kita merasa lebih buruk. Kita melihat situasi kita sebagai kurang adil. Bukan hanya merasa frustrasi, motivasi pun terpengaruh. Ada dua kemungkinan tanggapan: • Mengurangi usaha sehingga penghargaan tampak adil (menurunkan motivasi) • Berusaha meningkatkan penghargaan/pendapatan (meningkatkan motivasi). Bila itu tidak mungkin, kita menghapus kekecewaan dengan mengundurkan diri dari organisasi tersebut.
Teori Valensi Manusia Penjudi, menyatakan bahwa manusia cenderung membuat pilihan dan mengambil risiko yang tersedia. Ia akan memilih perilaku yang akan memberinya hasil terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan. Teori ini memungkinkan seseorang membuat keputusan secara sadar. Ada 3 (tiga) elemen penting : • Hasil akibat apa yang mungkin timbul dari suatu perilaku; • Valensi seberapa baik atau menarikkan hasil tersebut?; • Harapan jika saya lakukan hal ini, akankah saya memperoleh hasil itu?.
Teori X dan Y Donald McGregor – Manusia Baik dan Jahat, menyatakan bahwa cara pandang seorang pemimpin akan mempengaruhi caranya memotivasi bawahan.
TEORI X – pemimpin menganggap bawahan : • Membenci pekerjaannya • Membenci tanggung jawab • Tidak terlalu berambisi • Tidak mempunyai gagasan • Tidak mampu menyelesaikan masalah • Hanya memikirkan uang • Perlu dikendalikan secara ketat • Pemalas dan tidak dapat dipercaya sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara-cara berikut : Mengatakan dengan jelas apa yang harus dilakukan, kapan dan Membuat Melakukan pengawasan secara ketat, bagaimana melakukannya, Tidak menghendaki adanya partisipasi semua keputusan seorang diri,Mengharapkan kontribusi minimum Penghargaan hanya dalam bentuk gaji.
TEORI Y pemimpin menganggap bawahan : • Menikmati pekerjaannya; • Bersedia memberi kontribusi; • Bersedia menerima tanggung jawab; • Dapat membuat keputusan bagi diri sendiri; • Mampu menanggulangi masalah-masalah; • Mampu membuat rencana-rencana jangka panjang dan mencapainya sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara cara berikut : Memberi kesempatan untuk membuat, Memberi tanggung jawab, Memberi mereka kesempatan memberikan keputusan atas pekerjaan, Memberi penghargaan dengan cara lain, saran-saran sehingga bekerja bukan hanya dengan uang.

Jumat, 15 Januari 2010

HAKIKAT HATI NURANI

Manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Manusia bukan saja karena merupakan khalifah (wakil) Tuhan di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan penampakan atau tempat kenyataan asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Tuhan menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya, setelah jasad Adam dijadikan kemudian Tuhan meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Jasad manusia hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya.Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.

RUH DAN JIWA

Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Ruh berasal dari tabiat Tuhan dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Tuhan dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan jiwa (nafsu). Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir. Daya jiwa yang berfikir yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafsu) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Tuhan . Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang . Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Tuhan langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Tuhan mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketakwaan. Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.

AKAL

Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa. Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa. Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan -- ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (surga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena
kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan.

HATI

Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa, yang memperoleh sumber pengetahuan hati.Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir, tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal, sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati. Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani (bersih) dan hati dhulmani (kotor). Orang-orang yang mensucikan jiwanya akan beruntung dan orang yang mengotorinya akan merugi

Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Tuhan serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Tuhan. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati yang kotor selalu mempunyai keterkaitan dengan jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia, tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

Kamis, 14 Januari 2010

MANUSIA MEMILIKI HATI NURANI

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang mulia. Dibandingkan dengan hewan, tumbuhan dan benda lainnya, manusia memiliki kelebihan yaitu akal budi yang merupakan perpaduan dari pikiran dan hati. Hati menentukan kualitas perbuatan manusia, hati yang kotor akan melahirkan perbuatan yang jahat dan sebaliknya hati yang bersih atau hati nurani akan memunculkan perbuatan yang baik. Perbuatan manusia akan mempengaruhi kondisi alam lingkungannya. Untuk mempertahankan hidup manusia tentunya harus bekerja dengan memanfaatkan sumber daya alam. Bekerja itu ibadah, bekerja itu aktualisasi diri dan bekerja itu rekreasi. Tapi apa makna bekerja sesungguhnya? Sudah bernilai dan bermanfaatkah cara kita bekerja? Apapun profesi upayakan menjadi pekerja ibadah dengan hati yang hidup dan bersih atau spiritual worker!