Selasa, 09 Februari 2010

KEJUJURAN DALAM JUAL BELI

Pernah merasa tertipu ketika membeli barang? Sepertinya semua orang pernah mengalami hal itu. Baik tertipu mengenai harga, kualitas maupun kondisi barang. Barang palsu dibilang asli, barang second dibilang baru, barang rusak dibilang bagus dan sebagainya. Itu menjadi masalah yang sering kita hadapi ketika membeli sesuatu. Ada banyak sales-sales yang mengiming-imingi barang secara gratis, tapi harus membeli dulu satu atau beberapa produknya, dimana biasanya harga barang itu sudah di mark-up naik sehingga apa yang mereka katakan gratis itu sebenarnya sudah dibebankan pada konsumen. Satu hal yang unik di kota tempat tinggal saya saat ini adalah adanya kejujuran dari banyak penjual yang sudah beberapa kali saya alami. Mereka tanpa malu-malu mengakui jika barangnya kurang bagus. "kondisinya kurang bagus, pak.. mending jangan yang ini deh.." kata seorang penjual handphone pada suatu saat ketika saya tertarik pada sebuah handphone yang ia pajang di etalase. Beberapa waktu yang lalu ketika saya makan di sebuah rumah makan, saya mendapati bentuk kejujuran lain. Ketika saya hendak membeli kerupuk yang ada di etalasenya, sang penjual berkata bahwa kerupuk itu sudah lama sehingga mungkin tidak renyah lagi.


Sebenarnya masalah merugikan bukan saja dilakukan oleh penjual. Pembeli pun bisa berlaku demikian. Saya pernah membaca di sebuah majalah bahwa akibat tingginya tingkat persaingan, ada beberapa produsen yang terpaksa menjual produknya dibawah harga produksi agar mereka bisa ditempatkan pada posisi-posisi strategis di retail besar. Adapula pembeli yang terus menekan penjual dalam perdagangan. Dalam hal jasa atau tenaga kerja pun kita mendapati majikan yang mempekerjakan pembantu/buruh melebihi waktu normal tapi dengan upah serendah mungkin tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka. Pertemuan penjual dan pembeli di pasar atau market space dan segala sesuatu yang berhubungan dengan berbagai bidang usaha memang banyak menyisakan berbagai kisah termasuk mengenai kejujuran maupun kerugian. Saat ini ada begitu banyak orang yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dan hanya fokus untuk menimbun harta. Tidak peduli walaupun hal itu bisa merugikan bahkan menghancurkan hidup orang lain.


Pembaca mungkin pernah kecewa sewaktu membeli barang. Di pasar misalnya, mau beli sesuatu. Uang ada dan sudah dibawa. Kemudian kita berkeliling mengitari pasar untuk mencari barang yang ingin kita beli. Sempat sesekali kita temukan beberapa tempat yang menyediakan barang yang ingin kita beli. Tentu, pertamanya kita survey harga, alias nanyain penjual berapa mereka buka harga awal. Kenapa harga awal, ya memang karena masih bisa tawar menawar. Namanya juga belanja. Yang pandai nawar yang untung. Soalnya, belanja dipasar bukan kayak di mall atau supermarket. Udah ada tertera harga barangnya disitu. Namanya juga swalayan. Kita lihat, ada uang, baru angkat dan bayar ke kasir. Nah kalau di pasar, sekiranya gak pandai-pandai nawar, bisa jadi harga yang kita beli dua kali lipat mahalnya dengan harga asli.


Kalau bicara soal harga, memang kita gak bisa banyak komentar. Soalnya, prinsip pasar dalam Islam bebas dan beretika. Artinya, penjual boleh saja menjual dengan harga sekehendaknya selama dalam transaksi jual beli itu berlangsung atas dasar suka sama suka. Pembeli juga tidak komplain, karena mungkin dilihat harganya cocok dengan barang yang ditawarkan. Sah-sah saja. yang penting, waktu menawarkan barang si penjual haruslah sejujur mungkin. Artinya, kalaupun tidak sampai menceritakan ke pembeli berapa modal dan berapa untung, ya minimal tidak berbohong dengan melebih-lebihkan kualitas barang dari yang sebenarnya. Kemudian, memberi harga juga harus kira-kira. Tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. Sesuai dengan jangkauan pembeli. Itulah yang disebut etika.


Masalahnya lagi, terkadang banyak orang yang jualan tapi tidak jujur. Lain barang yang dipajang, lain pula barang yang dijual. Ini yang sering buat kita kesal kalau belanja, ternyata setelah sampai dirumah, barangnya tidak seperti apa yang ada di pasar. Kadang ada yang campuran, sebagian bagus sebagian lagi jelek. Hal ini dapat dialami sewaktu berbelanja buah-buahan. Kita tidak boleh memilih sendiri, musti penjual yang memilih. Kalau itu salah satu bentuk pelayanan mereka pada pembeli, kita senang. Tetapi, itu bukan yang seperti kita kira, karena pengen untung besar mungkin, makanya mereka begitu. Soalnya, yang dipajang yang bagus-bagus. Kadang nyusunnya bentuk piramid lagi. Tapi pas waktu dijual, memilihnya bagian-bagian belakang. Kebanyakan yang tidak bagus.


Dulu, semasa rasul kejadian begini juga banyak. Sempat sesekali rasul menegur mereka. Kebetulan waktu beliau jalan-jalan ke pasar. Dilihatnya ada pedagang yang menjual kurma. Terlihat tumpukan kurma itu tersusun bagus. Kalau dilihat sepintas, semuanya kualitas nomor satu. Tapi setelah didekati rasul, dan rasul memasukkan tangannya ditumpukan kurma-kurma itu. lalu didapati kurma yang basah. Dan ketika ditanya, memang itu sempat terkena air hujan. Namun karena tidak ingin rugi, maka penjual itu tetap menggabungkannya dengan yang bagus. Dengan harapan kalau dijual dengan yang bagus, tidak keliatan yang buruk. Lantas rasulpun menyuruh untuk memisahkannya.


Dalam banyak hadis rasul banyak memperingatkan. Ada yang bilang, penjual yang melakukan tipu muslihat ketika menjual barangnya tidak termasuk golongan islam. Ada larangan tidak boleh menjual barang yang mengandung unsur penipuan. Kemudian dilarang menjual barang yang tidak bisa dimiliki. Bahkan sampai-sampai untuk barang yang dijualnya, namun sewaktu akad barang itu tidak ada dihadapan, maka disyaratkan khiyar. Artinya, sekiranya barang yang diterima tidak sesuai dengan yang dibilang diawal, maka uang dikembalikan. Sungguh, benar prinsip dagang yang harus dipegang bagi setiap muslim. Dalam Firman Allah diperingatkan, larangan sesorang memakan harta orang lain dengan jalan yang batil, kecuali degan jalan jual beli, itupun harus dilandasi dengan dasar sukua sama suka. Harus ada keridoan dan rela hati antara penjual dan pembeli. Jadi sewaktu, penjual menetapkan harga sekian, dan pembeli menyetujuinya barulah jual beli itu sah. jadi tidak ada, kekesalan hati diantara kedua belah pihak.


Begitu juga pasalnya pada pembeli. Ini menyangkut harga. Terkadangan, mungkin kita sendiri sering berbelanja dan tawar menawar sama pedagang, tapi yang ada terkesan malah yang maksa itu kita. Memang, pembeli itu ibarat raja. Tapi bukan lantas bisa menawarkan harga yang kadang membuat penjual tidak ada untungnya. Bahkan, kadang rugi. Kalau sudah terdesak, dan barang belum laku. Maka fikir kita sebagai pembeli ini kesempatan. Padahal tidak, jual beli itu kan motif utamanya adalah tolong menolong. Dari sini lah ditekankan keridhoan antara keduanya. Bagaimana mungkin, kalau penjual aja dianjurkan menetapkan harga sewajarnya, lantas pembeli dibenarkan menwar harga seenaknya. Ya kira-kira juga lah nawarnya. Bahkan kadang, dengan tawaran sangat rendah, dan terakhir tidak beli, justru menyepelekan si penjual.


Rasul pernah bilang, Allah bakal memberi rahmatnya pada penjual yang toleran netapin harga, dan pembeli yang toleran nawar harga, juga kedua-duanya yang sepakat melakuan transaksi jual beli dengan harga yang bersahabat. Jadi, memang kejujuran itu kunci utama dalam dagang. Karena itu akan menumbuhkan kepercayaan yang lebih kepada pembeli. kalau nabi dulu, sewaktu berdagang malah Cuma bilang berapa modal barang itu. untuk harga jual diserahkan pada pembeli. ya, pastinya harus ada untung. Maka pantas kalau begitu, tempat pedangang-pedagang yang jujur kelak di akhirat bersama para nabi.


Dalam menjual maka selain kualitas barang / jasa yang kita tawarkan, ada unsur reputasi diri kita yang kita pertaruhkan melalui cara menjual kita. Reputasi inilah yang akan membuat kesan mendalam bagi calon konsumen kita. Dan salah satu hal yang dapat meningkatkan reputasi kita dihadapan calon konsumen adalah KEJUJURAN. Perlu diingat bahwa setiap orang baik bahkan penjahat sekalipun sangat menyukai orang yang jujur. Nah, jika setiap orang mencari-cari orang yang JUJUR kenapa kita tidak menjadi orang yang JUJUR sehingga kita selalu dicari-cari oleh setiap orang.


Kejujuran akan melahirkan kepercayaan. Penjual dan pembeli jujur akan menumbuhkan kepercayaan timbal balik antara penjual dan pembeli. Kondisi yang demikian akan menciptakan pasar yang sehat dan berdaya saing. Keharmonisan di sekor perekonomian ini akan membawa keberkahan dari langit yang akan mengantar menjadi masyarakat sejahtera, bangsa yang mandiri dan berlimpah rahmat Ilahi.


Buatlah suatu produk yang kreatif yang sangat bermanfaat... Karena sesungguhnya, "....mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS.3:191)


Banyak sekali bahan yang berlimpah yang semuanya tidaklah sia-sia ketika kita mampu memanfaatkannya sebagai peluang.


Allah berfirman, "...Allah telah menghalalkan jual beli..." (QS 2:275).


Sabda Rasulullah SAW:

“Wahai para pedagang, hindarilah kebohongan”. (HR. Thabrani)


“Seutama-utama usaha dari seseorang adalah usaha para pedagang yang bila berbicara tidak berbohong, bila dipercaya tidak berkhianat, bila berjanji tidak ingkar, bila membeli tidak menyesal, bila menjual tidak mengada-ada, bila mempunyai kewajiban tidak menundanya dan bila mempunyai hak tidak menyulitkan”. (HR. Ahmad, Thabrani dan Hakim)

“Pedagang dan pembeli keduanya boleh memilih selagi belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan terang-terangan, maka jual belinya akan diberkahi. Dan apabila keduanya tidak mau berterus terang serta berbohong, maka jual belinya tidak diberkahi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Rasulullah SAW menegaskan pula, bahwa pedagang yang jujur dalam melaksakan jual beli, di akhirat kelak akan ditempatkan di tempat yang mulia. Suatu ketika akan bersama- sama para Nabi dan para Syahid. Suatu ketika di bawah Arsy, dan ketika lain akan berada di suatu tempat yang tidak terhalang baginya masuk ke dalam surga.


Sabda Rasulullah SAW:

“Pedagang yang jujur serta terpercaya (tempatnya) bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati Syahid pada hari kiamat”. (HR. Bukhari, Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majjah)
“Pedagang yang jujur di bawah Arsy pada hari kiamat”. (HR. Al-Ashbihani)
“Pedagang yang jujur tidak terhalang dari pintu-pintu surga”. (HR. Tirmidzi)

Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi):

“Aku yang ketiga (bersama) dua orang yang berserikat dalam usaha (dagang) selama yang seorang tidak berkhianat (curang) kepada yang lainnya. Apabila berlaku curang, maka Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Dawud)


“Sesama Muslim adalah saudara. Oleh karena itu seseorang tidak boleh menjual barang yang ada cacatnya kepada saudaranya, namun ia tidak menjelaskan cacat tersebut.” (HR. Ahmad dan lbnu Majaah)


“Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu barang dengan tidak menerangkan (cacat) yang ada padanya, dan tidak halal bagi orang yang tahu (cacat) itu, tapi tidak menerangkannya.” (HR. Baihaqie)


“Sebaik-baik orang Mu`min itu ialah mudah cara menjualnya, mudah cara membelinya, mudah cara membayarnya dan mudah cara menagihnya.” (HR. Thabarani)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar